laporan kimia dasar

Posted: December 5, 2012 in Uncategorized

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR
SIFAT-SIFAT UNSUR

OLEH :
NAMA : M. NUR FITRIYANTO
NIM : DIA012098
PRODI : AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2012
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada awal abad ke-21 sekarang ini, ilmu kimia mengalami masa-masa paling berpendar semenjak perintisannya di paruh sejak abad ke-19. hasil penemuan baru dari berbagai penelitian dan eksperimen dapat kita nikmati dalam berbagai produk yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Susunan periodic sangat dikenal sebagai deretan unsure yang disusun menurut urutan nomor atom menjadi pedoman dalam penyelesaian pelajaran kimia dan yang terkait, seperti mengetahui wujud zat, nomor atom, nomor massa, kecenderungan antar unsure, dan masih banyak lagi.

Di dalam periodic unsure terdapat unsur-unsur yang dibagi menjadi beberapa golongan dan periodic. Golongan dalam susunan periodic dituliskan dalam bentuk kolom-kolom. Periodic dalam susunan periodic dituliskan dalam bentuk baris, unsure yang mempunyai sifat yang sama diletakkan dalam satu golongan.
Didalam susunan ini akan kita temukan nama-nama unsure disertai dengan symbol, jari-jari, nomor atom, dan nomor massanya. Saat ini, jumlah unsure yang terdapat dalam susunan periodic adalah 108 unsur, jumlah unsure ini masih dapat berubah, jika ada unsure baru yang di temukan lagi sesuai dengan perkembangan teknologi.
Oleh karena itu, praktikum ini dimaksudkan untuk menanbah pengetahuan praktikan tentang unsure-unsur kimia, terutama golongan alkali (IA) dan golongan alkali tanah (II), yang sebenarnya sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari serta tingkat asam dan basanya.

1.2 Tujuan
– Mengetahui tingkat kelarutan suatu unsure dalam asam dan basa pada satu golongan
– Mengetahui fungsi dari indicator fenolftalien
– Mengetahui hubungan kelarutan suatu asam dengan Ksp garam serta pengaruh besarnya pengaruh besarnya Ksp suatu garam terhadap pengendapan

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Penggolongan periodic unsure-unsur

Menurut jenis subkulit yang berisi unsure-unsur dapat dibagi menjadi beberapa golongan unsure utama, yaitu gas mulia, unsure transisi (atau logam transisi), lantanida dan aktinida. Pada system periodic unsure-unsur utama (representative elements) adalah unsure-unsur dalam golongan IA hingga 7A, yang semuanya memiliki subkulit S dan P dengan bilangan kuantum utama berfungsi yang belum terisi penuh. Dengan pengecualian pada Helium, seluruh gas mulia ( noble gas) (unsure-unsur golongan 8A) mempunyai subkulit P yang terisi penuh, (konfigurasi elektronnya adalah 1S2 untuk Helium dan nss, nps untuk gas mulia yang lain, di mana n adalah bilangan kuantum utama untuk kulit terluar). Logam transisi adalah unsure-unsur dalam golongan 1B dan 3B hingga 8B, yang mempunyai subkulit d yang tidak terisi penuh atau mudah menghasilkan kation dengan subkulit d yang tak terisi penuh. (logam-logam ini kadang-kadang disebut dengan unsure-unsur transisi blok d).

Pada system periodic dapat dilihat bahwa unsure-unsur golongan IA adalah logam alkali memiliki konfigurasi electron terluar yang mirip, masing-masing memiliki inti gas mulia dan konfigurasi ns1 untuk electron terluarnya. Demikian pula pada golongan 2A, yaitu logam alkali tanah juga mempunyai inti gas mulia dan konfigurasi. Electron terluar ns2. electron terluar suatu atom, yang terlibat dalam ikatan kimia, sering disebut electron valensi (valenci electron). Jumlah electron valensi yang sama menentukan kemiripan perilaku kimia antara unsure-unsur dalam setiap golongan. Pengamatan ini juga berlaku untuk halogen ( unsur-unsur golongan 7A), yang memiliki konfigurasi electron terluar ns2, np5 dan menunjukkan sifat-sifat sangat mirip.

Konfigurasi electron Kation dan Anion

Karena banyak senyawa ionic yang terbentuk dari anion dan kation monoatomik, akan sangat membantu untuk mengetahui bagaimana menulis konfigurasi electron spesi-spesi ion ini. Prosedur untuk menulis konfigurasi electron ion-ion memerlukan metode yang hanya sedikit diperluas dari metode yang digunakan untuk atom netral. Dalam hal ini ion-ion dibagi dalam dua kelompok.

- Ion yang dihasilkan dari unsure golongan utama

Pada pembentukan kation dari atom netral unsure golongan utama, satu electron atau lebih dikeluarkan dari kulit n terluar yang masih terisi. Konfigurasi electron beberapa atom netral atau kation-kationnya yang terkait sebagai berikut.
Na : [Ne] 3s1 Na+ : [Ne]
Ca : [Ar] 4s2 Ca2+ : [Ar]
Al : [Ne] 3s2 3p1 Al3+ : [Ne]
Perhatikan bahwa setiap ion mempunyai konfigurasi gas mulia yang stabil.
Dalam pembentukan anion, satu electron atau lebih ditambahkan ke kulit n terluar yang terisi sebagian. Contoh-contoh sebagai berikut :
H : 1s1 H- : 1s2 atau [He]
F : 1s2, 2s2, 2p5 R- : 1s2, 2s2, 2p6 atau [Ne]
O : 1s2, 2s2, 2p4 O2- : 1s2, 2s2, 2p6 atau [Ne]
N : 1s2, 2s2, 2p3 N3- : 1s2, 2s2, 2p6 atau [Ne]

Sekali lagi, semua anion mempunyai konfigurasi electron gas mulia yang stabil. Jadi satu cirri khusus dari hamper semua unsure golongan utama adalah bahwa ion-ion yang dihasilkan dari atom-atom netrlnya mempunyai konfigurasi electron terluas gas mulia ns2 np6. ion-ion, atau atom-atom dan ion-ion, yang mempunyai jumlah electron yang sama, dan oleh karena itu konfigurasi electron tingkat dasarnya sama disebut isoelektron (isoelectronic). Jadi H- dan He adalah isoelektron, F, Na2, dan Ne adalah isoelektron, dan seterusnya.

- Kation yang dihasilkan golongan utama

Orbital 4s selalu diisi lebih dahulu sebelum orbital 3d. Mangan yang konfigurasi elektronnya adalah [Ar] 4s2 3d5. jika terbentuk ion Mn2+, mungkin dapat diduga dua electron dapat dikeluarkan dari orbital 3d untuk menghasilkan [Ar] 4s2 3d5. pada kenyataannya, konfigurasi Mn2+ ialah [Ar] 3d5! Alasannya adalah interaksi elektron-elektron dan electron inti pada atom netral berbeda dengan interaksi ionnya. Jadi, meskipun dalam Mn orbital 4s selalu terisi lebih dahulu sebelum 3d, electron dikeluarkan dari 4s pada pembentukan Mn2+, karena orbital 3d lebih stabil dari pada orbital 4s dalam ion logam transisi, electron yang dilepaskan pertama-tama selalu dari orbital ns dan kemudian baru dari orbital (n-1)d.

- Muatan inti efektif
Konsep muatan inti efektif memungkinkan kita untuk menjelaskan efek perisai pada sifat-sifat periodic. Misalnya, atom Helium yang mempunyai konfigurasi electron 1s2. kedua proton helium memberikan muatan +2 kepada inti, tetapi gaya tarik penuh dari muatan ini terhadap dua electron 1s sebagian diimbangi oleh tolak-menolak electron-elektron. Akibatnya, dapat dikatakan bahwa setiap electron 1s diperisai dari inti atom electron 1s lainnya. Muatan inti efektif, Zeff , dinyatakan dengan ;
Zeff = Z – s
Dengan Z adalah muatan inti sebenarnya (yaitu nomor atomnya) dan s (sigma) disebut konstanta perisai (shielding contant).

s lebih besar dari nol tetapi lebih kecil dari Z .
Salah satu contoh dari perisai electron adalah energi yang diperlukan untuk mengeluarkan satu electron dari atom berelektron banyak. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa diperlukan energi sebesar 2372 KJ untuk mengeluarkan electron pertama dari satu mol atom He dan energi sebesar 5251 KJ untuk mengeluarkan electron kedua dari satu electron He+. Alasan diperlukannya lebih banyak energi untuk mengeluarkan electron kedua adlah bahwa dengan hanya terdapat atu electron, maka tidak ada perisai, dan electron itu merasakan seluruh pengaruh dari muatan inti +2.

Untuk atom-atom dengan juga electron atau lebih, electron pada kulit tertentu diperisai oleh electron pada kulit bagian dalam (yaitu, kulit yang lebih dekat dengan inti), tetapi tidak oleh electron pada kulit bagian luar. Jadi, unsure unsure litium yang konfigurasi elektronnya 1s1 2s1 , electron 2s diperisai oleh elekktron 1s, tetapi electron 2s tidak memberi efek perisai terhadap electron 1s, sebagai tambahan, kulit bagian dalam yang terisi penuh memerisai electron bagian luar dengan lebih efektif dari pada sub kulit yang menghasilkan konsekuensi yang penting untuk ukuran atom dan pembentukan ion-ion dan molekul-molekul.

- Jari-jari ion

Jari-jari atom ion adalah jari-jari kation atau anion. Jari-jari ion mempengaruhi sifat-sifat fisika dan kimia suatu senyawa ionic. Misalnya, struktur berdimensi tiga dari suatu senyawa ionic bergantung pada ukuran relative kation dan anionnya.

- Energi ionisasi
Kestabilan electron terluar ini tercermin secara langsung pada energi ionisasi atom tersebut. Energi ionisasi adalah energi minimum yang diperlukan untuk melepaskan satu electron dari atom berwujud gas pada keadaan dasarnya. Besarnya energi ionisasi merupakan ukuran usaha yang diperlukan untuk memaksa satu atom untuk melepaskan elektronnya.

- Kecenderungan umum dalam sifat-sifat kimia
Kecenderungan perilaku kimia unsure-unsur golongan utama adalah hubungan diagonal. Hubungan diagonal merujuk pada kemiripan yang ada antara pasangan unsur pada golongan dan periodic yang berbeda pada tabel periodic. Secara khusus, tiga anggota utama peridik kedua (Li, Be dan B) memperlihatkan banyak kemiripan dengan unsure-unsur yang terletak secara diagonal dibawahnya dalam tabel periodic.

Dalam membandingkan sifat-sifat unsure dalam golongan yang sama, harus diingat bahwa pembandingan paling berlaku dengan unsure-unsur sejenis. Paduan ini berlaku untuk unsure-unsur golongan 1A dan 2A, yang seluruhnya logam, dan golongan 7A seluruhnya non logam.

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat- alat
– Tabung reaksi
– Gelas kimia 100 ml
– pinset
– Hot plate
– Gelas ukur 25 ml
– Pipet tetes
– Pipet Volum
3.1.2 Bahan-bahan
– BaCl2
– CaCl2
– NaOH
– Pita Mg
– Kalium
– Akuades
– Indikator fenolftalien

3.2 Prosedur

3.2.1 Kelarutan dalam garam sulfat

- Diambil 1 ml BaCl2 dan 1 ml H2SO4 dengan pipet tetes lallu dimasukkan ke dalam tabung reaksi
– Diambil 1 ml CaCl2 dan 1 ml H2SO4 dengan pipet tetes lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan di amati.

3.2.2 Kelarutan dalam garam Hidroksida
– Diambil 1 ml BaCl2 dan 1 ml NaOH dengan pipet tetes lalu di masukan ke dalam tabung reaksi.
– Di ambil 1 ml CaCl2 dan 1 ml NaOH dengan pipet tetes lalu di masukan ke dalam tabung reaksi dan di amati.

3.2.3 Reaktifitas unsure Mg + H2O
– Diambil 2 ml H2O dimasukan ka dalam gelas ukur lalu di panaskan.
– Diambil sedikit pita Mg dan di masukan kedalam H2O yang telah di panaskan.
– Ditambahkan indicator fenolftalien.

3.2.4 Rektifitas unsure K + H2O
– Diambil 50 ml H2O dan dimasukan ke dalam gelas kimia.
– Diambil logam K dengfan pinset dan di masukan pada gelas kimia yang berisi 50 ml H2O.
– Ditambahkan indicator fenolftalien.


BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel pengamatan
No. Perlakuan Pengamatan
A
1.

2.

B
3.

4.

5.

6. Kelarutan dalam garam sulfat
Pencampuran BaCl2 + H2SO4
– dimasukkan 1 ml BaCl2 + 1 ml H2SO4

Pencampuran CaCl2 + H2SO4
– Dimasukkan 1 ml CaCl2 + 1 ml H2SO4 dalam tabung reaksi

Kelarutan Dalam garam hidroksida
Pencampuran BaCl2 + NaOH
– Dimasukkan 1 ml BaCl2 + 1 ml NaOH ke dalam tabung reaksi

Pencampuran CaCl2 + NaOH
– Dimasukkan 1 ml CaCl2 + 1 ml NaOH ke dalam tabung reaksi

Reaktifitas unsure Mg + H2O
– Dimasukkan 2 ml air pada gelas bekker lalu dipanaskan
– Dimasukkan pita Mg dan ditambahkan indicator pp

Reaktofitas unsure K + H2O
– Dimasukkan 50 ml air pada gelas bekker
– Lalu logam K dengan menggunakan pinset, lalu dimasukkan pada gelas bekker yang berisi 50 ml air dan ditambahkan indicator pp

- Saat dicampur, campuran berwarna putih
– Terdapat banyak endapan pada campuran yang telah dicampurkan

- Saat dicampurkan, campuran tidak berwarna/ bening
– Tidak terdapat endapan

- Saat dicampurkan campuran berwarna ungu
– Setelah didiamkan, terdapat sedikit endapan

- Saat dicampurkan campuran berwarna putih
– Terdapat banyak endapan

- Adanya gas yang keluar dari pita Mg
– Larutan berubah warna menjadi warna merah lembayung

- Saat logam K di masukkan pada 50 ml air terjadi reaksi yaitu terbakar
– Saat diberi indicator pp, air berubah warna menjadi ungu tua

4.2 Reaksi- reaksi
4.2.1 Reaksi dengan garam sulfat
– BaCl2 + H2SO4 → BaSO4 + 2 HCl
– CaCl2 + H2SO4 → CaSO4 + 2 HCl
4.2.2 Reaksi dengan garam hidroksida
– BaCl2 + 2NaOH→ Ba(OH)2 + 2NaCl
– CaCl2 + 2NaOH → Ca(OH)2 + 2NaCl
4.2.3 Reaksi magnesium dengan air
– Mg + H2O → Mg(OH)2 + H2
– 2K + H2O → 2KOH + H2
4.2.4 Indikator fenolftalien

4.2.5 Mg + Indikator fenolftalien

4.3 Pembahasan

Garam hidroksi adalah garam yang bersifat basa. Apabila unsure=unsure dalam satu golongan di reaksikan dengan garam hidroksida maka unsure-unsur itupun bersifat basa, dalam satu golongan apabila seluruh anggotanya bersifat basa maka apabila dari atas ke bawah (samakin ke bawah) letak unsure maka akan semakin larut, sebaliknya bila dari bawah ke atas letak unsur maka sifat kelarutannya akan semakin kecil.
Garam sulfat adalah senyawa yang bersifat asam, bila unsure-unsur dalam satu golongan di reaksi dengan garam sufat yang bersifat asam maka unsure-unsur itupun bersifat asam. Dalam satu golongan bila seluruh unsur-unsur yang terdapat di dalamnya bersifat asam maka semakin ke atas sifat elarutannya semakin besar apabila semakin ke bawah sifat kelarutannya semakin kecil.

Logam alkali merupakan unsure yang sangat reaktif dan mudah untuk membentuk ion positif. Hal ini disebabkan oleh jumlah elektrin yang di lepas sedikit yaitu satu electron, sifat yang mencerminkan hal ini adalah energy ionisasi, dan ukuran jari-jari atom yang besar, misalnya dari natrium ke fransium, nomor atom dan jari-jari atom makin besar, sedangkan energy ionisasinya makin kecil sehingga logam alkali makin reaktif.

Bila dibandingkan sifat kereaktifitasan anatar logam alkali (golonga 1 A) dengan logam alkali tanah (golongan II A) maka logam alkali lebih reaktif dari pada logam alkali tanah, hal ini di sebabkan oleh jumlah electron yang di lepaskan. Semakin sedikit jumlah elektron yang di lepaskan maka akan semakin reaktif. Golongan I A melepaskan satu electron sedangkan golongan II A melepaskan dua electron.
Pada percobaan yang dilakukan, pada campuran BaCl2 ditambah H2SO4 menghasilkan endapan yang sangat banyak, sedangkan pada campuaran CaCl2 dengan H2SO4 menghasilkan sedikit endapan dari pada campuran BaCl2 dan H2SO4, hal ini di sebabkan H2SO4 bersifat asam, bila unsur-unsur dalam satu golongan direaksikan dengan H2SO4 yang bersifat asam maka semakin ke atas maka sifat kelarutannya semakin besar dan sebaliknya. Unsure Ba berada di bawah Ca, itulah yang menyebabkan campuran BaCl2 di tambah H2SO4 lebih banyak endapan dari pada campuran CaCl2 ditambah H2SO4.

Pada percobaan yang dilakukan, pada campuran BaCl2 ditambahkan NaOH menghasilkan endapan lebih sedikit di bandingkan campuran CaCl2 di tambahkan NaOH, hal ini disebabkan NaOH bersifat basa, bila unsur-unsur dala satu golongan direaksikan dengan NaOH yang bersifat basa maka unsur-unsur itupun bersifat basa, dalam satu golongan bila unsur-unsur yang terdapat didalamnya bersifat basa maka semakin ke atas sifat kelarutannya makin kecil dan sebaliknya. Unsur Ca berada di atas unsur Ba, itulah yang menyebabkan campuran BaCl2 di tambah NaOH endapannya lebih sedikit darim pada campura CaCl2 ditambah NaOH.

Telah dijelaskan bahwa logam alkali lebih reatif dari pada logam alkali tanah, sehingga K lebih reaktif dari pada Mg. untuk bereaksi dengan Mg air terlebih dahulu di panaskan, hal ini di sebabkan untuk mempercepat reaksi sedangkan reaksi K dengan air, air tidak perlu di panaskan. Jadi, saat K dimasukan ke dalam air langsung bereaksi, yaitu menghaslkan logam K yang langsung terbakar, hai ini di sebabkan logam K lebih reaktif dari pada Mg. Logam K dan pita Mg bila di reaksikan dengan air akan menghasilkan larutan yang bersifat basa, untuk mengetahui tingkat basa dari kedua logam tersebut maka di tambahkan indicator pp, saat di campurkan indicator pp pada campuran pita Mg dan air campuran menjadi warna merah lambayung sedangkan campuran logam K dengan air setelah di campurkan indicator pp berwarna ungu, hal ini artinya merah lambayung merupakan basa lemah dan warna ungu merupakan basa kuat, sehingga dapat di ketahui semakin ke kiri maka basanya makin kuat.

Pada percobaan ini di gunakan Reagan H2SO4 dan NaOH. Fungsi dari reagen ini adalah untuk mengetahui kelarutan satu golongan dalam asam dam basa. Dalam percobaan yang mempunyai sifat asam adalah H2SO4 dan yang bersifat basa adalah NaOH.

Unsur-unsur yang termasu loga alkali atau golonga I A adalah Litium(Li), Natrum(Na), Kalium(K), Rubidium(Rb), Sesium(Cs), Fransium(Fr), adapun sifat fisiknya adalah :
– Merupakan logam yang lunak
– Mudah di iris
– Mempunyai daya hantar listrik dan panas yang baik
– Titik leleh dan titik didihnya relative rendah
– Merupakan logam yang ringan

Adapun sifat logam alkali adalah sebagai berikut :
– Merupakn logam yang sangat reaktif
– Konfigurasi electron valensi adalah ns1
– Energi ionisasi relative rendah
– Mudah melepaskan electron valensi
– Semua senyawa logam alkali merupakan senyawa yang mudah larut dalam air
– Merupakan reduktor yang kuat

Unsur-unsur yang termasuk dalam logam alaklitanha atau golongan II A adalah Berilium(Be), Magnesium(Mg), Kalsium(Ca), Stronsium(Sr), Barium(Ba) dan Rarium(Ra). Adapun sifat fisiknya adalah :
– Mempunayi kilap logam
– Lebih keras dari logam alkali
– Dapat menghatar panas dan listrik yang baik, kecuali Berilium
– Radium merupakan unsur radio aktif

Adapun sifat kimia logam alkali tanah adalah :
– Merupakan logam yang reaktif
– Energi ionisasi semakin rendah
– Keelektronegatifan semakin kecil
– Daya reduksi semakin kuat
– Merupak reduktor yang cukup kuat

Afinitas electron adalah kemampuan untuk menerima satu atau lebih electron, ini merupakan sifat lain yang sangat menpengaruhi perilaku kimia atom-atom.
Energi ionisasi adalah energy minimum yang di perlukan untuk melepas satu elektro dari atom berwujud gas pada ke adaan dasarnya. Besar energy ionisasi merupakan ukuran usaha yang yang di perlukan untuk memaksa satu atom untuk melepaskan elektronnya, atau bagaimana eratnya electron terikat dalam atom.
Kereatifan adalah satu sifat yang mencerminkan seberapa cepat atau lambatnya suatu unsur itu dapat bereaksi dengan larutan atau campuran.

Dan yang di maksud dengan keelektronegatifan adalah kecenderungan atau kemampuan suatu atom untuk menarik electron dari atom lain.

BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat di ambil kesimpulan bahwa:
– Dalam satu golongan unsure-unsur yang terdapat di dalamnya bersifat asam maka semakin ke atas sifat kelarutannya semakin besar apabila semakin ke bawah sifat kelaritannya semakin kecil, sedangkan bila dalam satu golongan seluruh unsur-unsur yang terdapat di dalamnya bersifat basa maka semakin ke atas tngkat kelarutannya semakin kecil apabila semakin ke bawah sifat kelarutannya semakin besar.

- Fungsi dari indikator fenolftalien adalah untuk mengetahui sifat suatu larutan basa atau asam, bila larutan bersifat basa maka bila di campurkan indicator pp maka akan merubah warna seprtim pda percobaan pita Mg dan K, sedangkan bila bersifat asam bila di campurkan indikator pp larutan tidak berubah warna.

- KSP sangat berpengaruh terhadap kelarutan. Suatu larutan jika hasil kali ion-ion asam lebih kecil atau sama dengan KSP garam, maka campuran akan larut, dengan larutnya campran maka endapan yang terjadi sedikit atau bahkan tidak ada, sedangkan hasil kali ion-ion asam lebih besar dari pada KSP garam, maka campuran menjadi kurang larut dengan kurang larutnya campuran maka akan terjadi pengendapan.

5.2 Saran
Sebaiknya unsur-unsur yang dipakai untuk percobaan ditambah, seperti Na, Li, Be dan yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bresnik, Stephen . 2002 . Kimia Umum . Hipokrates : Jakarta
Petrucci, Ralph . 1996 . Kimia Dasar . Erlangga : Jakarta
Respati . 1999 . Ilmu Kimia . Rieneka Cipta : Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s